Lupus Eritematosus Sistemik (LES)

Penyakit Lupus Eritematosus Sistemik atau lebih dikenal dengan sebutan SLE atau LES berbagai istilah lainnya seperti penyakit dengan seribu wajah, merupakan salah satu penyakit reumatik autoimun yang memerlukan perhatian khusus baik dalam mengenali tampilan klinis penyakitnya hingga pengelolaannya.
Penyakit ini terutama menyerang wanita usia reproduksi dengan angka kematian yang cukup tinggi. Faktor genetik, imunologik dan hormonal serta lingkungan diduga berperan
dalam patofisiologi LES.



Apa itu LUPUS?
Systemic lupus erythematosus (SLE)
Penyakit inflamasi kronik sistemik yang disebabkan oleh gangguan autoimunitas. Penyakit autoimun terjadi bila jaringan tubuh “diserang” oleh sistim imun dirinya sendiri. Pasien Lupus atau orang dengan Lupus (ODAPUS) memiliki sejumlah autoantibodi yang tidak biasa di dalam darahnya dan beredar ke seluruh tubuh mengakibatkan keradangan / kerusakan / gangguan pada target jaringan yang diserangnya.
SLE dapat menyebabkan penyakit / gangguan pada berbagai jenis organ mulai dari kulit, jantung, hati, paru, otak, sistim pencernaan, persendian dan sebagainya. Dapat dikatakan semua jaringan tubuh dapat dipengaruhi oleh SLE.
Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada wanita usia reproduktif, sekitar 9-14 kali dibandingkan SLE pada laki-laki. Di Indonesia, terdapat perbedaan insidensi SLE di beberapa wilayah tertentu. Belum diketahui apakah berkaitan dengan etnik yang ada.

Apa Saja Gejala Penyakit LUPUS?
– Demam tanpa bukti infeksi.
– Penurunan berat badan dan nafsu makan.
– Nyeri dada yang memberat saat menarik nafas dalam (pleurisy)
– Rambut rontok hingga kebotakan
– Nyeri otot, sendi
– Mual, muntah
– Ruam kulit
– Reaksi tidak wajar terhadap paparan sinar matahari (fotosensitif)
– Sariawan
– Pembengkakan kelenjar getah bening

Kriteria Diagnosis Lupus Eritematosus Sistemik

Jenis Penyakit LUPUS?
1. Lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus/SLE)
Lupus ini terjadi secara menyeluruh (sistemik) pada tubuh penderita dan merupakan jenis lupus yang paling sering terjadi. Dinamakan lupus sistemik dikarenakan terjadi pada berbagai organ, terutama sendi, ginjal, dan kulit. Gejala utamanya adalah inflamasi kronis pada organ-organ tersebut.

2. Lupus eritematosus kutaneus (cutaneous lupus erythematosus/CLE)
Merupakan manifestasi lupus pada kulit yang dapat berdiri sendiri atau merupakan bagian dari SLE. CLE dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu acute cutaneous lupus erythematosus (ACLE), subacute cutaneous lupus erythematosus (SCLE), dan chronic cutaneous lupus erythematosus (CCLE).

3. Lupus imbas obat
Beberapa jenis obat dapat menimbulkan gejala yang terlihat mirip dengan gejala lupus, pada orang yang tidak menderita SLE. Akan tetapi jenis lupus ini bersifat sementara dan akan menghilang dengan sendirinya beberapa bulan setelah berhenti mengonsumsi obat yang memicu gejala lupus tersebut. Beberapa jenis obat yang dapat menyebabkan lupus jenis ini, antara lain metildopa, procainamide, D-penicillamine (obat untuk mengatasi keracunan logam berat), serta minocycline (obat jerawat).

4. Lupus Eritematosus Neonatal
Lupus eritematosus neonatal merupakan jenis lupus yang terjadi pada bayi baru lahir. Lupus neonatal diakibatkan oleh autoantibodi, yaitu anti-Ro, anti-La, dan anti-RNP. Ibu yang melahirkan anak yang menderita lupus eritematosus neonatal belum tentu mengidap lupus. Biasanya lupus eritematosus neonatal hanya terjadi pada kulit dan akan menghilang dengan sendirinya. Namun pada kasus yang jarang, lupus neonatal dapat menyebabkan congenital heart block, yaitu gangguan irama jantung pada bayi baru lahir. Kondisi ini dapat diatasi dengan cara memasang alat pacu jantung.

    Kapan Kita Mulai Mewaspadai Timbulnya Penyakit LUPUS?
    Apabila muncul gejala sebagai berikut……………………..
    Gejala umum berupa kelelahan, demam (tanpa bukti infeksi) dan penurunan berat badan.
    Gejala pada otot dan sendi berupa radang sendi, nyeri sendi dan radang otot.
    Gejala pada kulit seperti ruam kupu-kupu (butterfly atau malar rash), fotosensitivitas, lesi membrana mukosa, kebotakan (alopesia), ujung-ujung jari pucat, membiru dan terasa dingin (fenomena Raynaud), perdarah bawah kulit (purpura), gidu atau biduran (urtikaria), radang pembuluh darah (vaskulitis).
    Gejala pada ginjal berupa adanya darah dalam urin (hematuria), kebocoran protein ( proteinuria), gangguan pada sedimen urin hingga gangguan ginjal berat berupa sindroma nefrotik.
    Gejala perut dan usus mual, muntah, nyeri perut.
    Gejala paru-paru seperti terasa sesak terutama saat menarik nafas dalam (pleurisy), peningkatan tekanan darah paru, jejas pada jaringan paru.
    Gejala yang melibatkan jantung dan pembuluh darah seperti rketidakteraturan denyut jantung.
    Gejala akibat terkenanya sistim darah seperti kurang darah (anemia), menurunnya sel darah putih (lekopenia) dan keping-keping darah (trombositopenia).
    Gejala keterlibatan saraf dan jiwa berupa kejang, gangguan ingatan hingga gejala psikosis.
    Kecurigaan tersebut dilanjutkan dengan melakukan penyingkiran terhadap penyakit lainnya yang memberikan gejala serupa.

Bagaimana Penanganan LUPUS?
Edukasi
1. Hindari sinar matahari – Ultra violet
Sinar ultra violet (UV) baik dari sinar matahari maupun buatan (artifisial UV) harus dihindari sebanyak mungkin. Berjalanlah pada selasar pertokoan, gunakan topi atau payung, kenakan sunscreen cream dengan daya proteksi yang disebut SPF (sun protection factor untuk UVB) minimal 30 dan terhadap UVA minimal PA++. Sunscreen harus dipakai sekitar 30 menit sebelum keluar rumah. Pemakaian sunscreen harus diulang-ulang terutama bagi mereka yang sering membasuh wajah / wudhu.
2. Hindari merokok karena risiko untuk terjadinya serangan jantung atau stroke meningkat pada pasien SLE.
3. Lakukan latihan teratur setiap hari. Walaupun seringkali anda merasa lelah. Latihan akan memperbaiki sirkulasi darah, mempertahankan kekuatan dan massa otot.
4. Diet dianjurkan yang kurang mengandung lemak jenuh, tidak mengandung herbal yang memicu sistim imun, suplemen vitamin D diperlukan untuk metabolisme kalsium / tulang serta perbaikan sistim imun.
5. Hindari atau diskusikan dengan dokter anda bila harus mendapat pengobatan tertentu seperti golongan sulfa, procainamide dan sebagainya. Beberapa jenis obat dapat memperburuk kondisi Lupusnya.

Obat-Obatan
Pemakaian obat tergantung dari kondisi masing-masing pasien. Obat dapat diberikan dalam kombinasi atau tunggal. Namun pada umumnya beberapa jenis obat diberikan bersamaan. Anti Inflamasi Non-Steroidal (AINS)
Beberapa obat anti radang non-steroidal dapat diberikan untuk mengurangi atau mengatasi nyeri atau radang sendi, dan keradangan. Perlu diperhatikan selain manfaatnya, terdapat beberapa efek samping yang dapat melibatkan sistim saluran cerna, saluran kemih dan ginjal serta jantung dan pembuluh darah. Untuk itu perlu diperiksa secara berkala fungsi ginjal, tekanan darah dan beberapa jenis pemeriksaan laboratorium.

Anti Inflamasi Steroid
Obat ini banyak digunakan untuk mengurangi proses keradangan dan menekan sistim imun. Perlu diatur dosisnya dan pemantauan terhadap tekanan darah, gula darah, risiko infeksi, katarak, osteoporosis dan sebaginya.
Pada umumnya obat ini akan digunakan dalam jangka panjang dan dosis dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Anti-malaria
Dipakai untuk mengurangi gejala pada kulit dan sendi serta memperbaiki ganguan pada keping-keping darah (trombosit) yang mudah melekat satu sama lainnya. Salah satu efek samping adalah pandangan kabur. Periksalah mata anda sebelum menaggunakan obat ini.

Imunosupresan
Beberapa obat pada kelompok ini dipakai untuk menekan sistim imun dan hasilnya adalah penekanan proses keradangan, baik di sendi atau organ. Efek samping pada darah seperti menurunnya jumlah leukosit dapat meningkatkan risiko terkena infeksi. Perlu pencegahan yang baik terhadap infeksi pada pemakai obat ini. Beberapa contoh yang sering dipakai adalah methotrexate (MTX), leflunomide, sulfasalazine, azathioprine, cyclosporin A, dan cyclophosphamide.

Agen Biologik
Perkembangan terbaru pengobatan SLE adalah menggunakan agen biologik. Agen biologik sebagaimana halnya imunospuresan di atas, akan menekan sistim imun melalui ikatan terhadap molekul yang memperantarai proses keradangan yang dikenal dengan nama “sitokin”. Manakala menggunakan obat ini, perlu dilakuan pemeriksaan terhadap kemungkinan adanya infeksi spesifik seperti tuberkulosis, keganasan (kanker) dan fungsi organ.

Rehabilitasi Medik
Latihan penguatan otot, lingkup gerak sendi dan mengurangi nyeri melalui pengobatan kompres hangat atau dingin, atau menggunakan alat seperti ultra sound (US) dan lain sebagainya diperlukan untuk mempertahankan massa otot, menghindari kekakuan sendi, mengurangi risiko munculnya sumbatan pada pembuluh darah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *