HIPERTENSI (Tekanan Darah Tinggi)

APA ITU HIPERTENSI?
Sebelum bisa memahami hipertensi, kita perlu mempelajari tentang apa itu tekanan darah terlebih dahulu. Denyutan jantung bisa memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Ketika darah dipompa ke dalam pembuluh arteri, tekanan yang mendorong dinding pembuluh arteri disebut sebagai “tekanan darah”. Tekanan sistolik atau “tekanan darah atas” merupakan tekanan yang diberikan pada dinding pembuluh arteri saat jantung berkontraksi. Tekanan diastolik atau “tekanan darah bawah” merupakan tekanan yang diberikan pada dinding pembuluh arteri saat jantung berelaksasi.
Tekanan darah umumnya diukur dalam satuan milimeter air raksa (mmHg). Menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia, hipertensi ditandai adalah pembacaan tekanan darah yang melebihi nilai lebih dari 140 (tekanan darah tinggi) dan 90 (tekanan darah rendah) mmHg dengan pengukuran berulang saat orang tersebut sedang dalam kondisi istirahat.

APA SAJA FAKTOR RESIKO HIPERTENSI?
1) Usia
Tekanan darah cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. Pada laki-laki meningkat pada usia lebih dari 45 tahun sedangkan pada wanita meningkat pada usia lebih dari 55 tahun.
2) Berat
kelebihan berat badan atau obesitas.
3) Jenis Kelamin
Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi daripada wanita.
4) Riwayat Kesehatan Keluarga
orang cenderung lebih mudah untuk menderita hipertensi jika ada anggota keluarganya yang pernah menderita penyakit yang sama sebelumnya.
5) Kebiasaan Gaya Hidup tidak Sehat
Gaya hidup tidak sehat yang dapat meningkatkan hipertensi, antara lain minum
minuman beralkohol, kurang berolahraga, stress, dan merokok.

  • a. Merokok
    Merokok merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan hipertensi, sebab rokok mengandung nikotin. Menghisap rokok menyebabkan nikotin terserap oleh pembuluh darah kecil dalam paru-paru dan kemudian akan diedarkan hingga ke otak. Di otak, nikotin akan memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin atau adrenalin yang akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan darah yang lebih tinggi. Tembakau memiliki efek cukup besar dalam peningkatan tekanan darah karena dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Kandungan bahan kimia dalam tembakau juga dapat merusak dinding pembuluh darah. Karbon monoksida dalam asap rokok akan menggantikan ikatan oksigen dalam darah. Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah meningkat karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup ke dalam organ dan jaringan tubuh lainnya. Karbon monoksida dalam asap rokok akan menggantikan ikatan oksigen dalam darah. Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah meningkat karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup ke dalam organ dan jaringan tubuh lainnya.

  • b. Kurangnya aktifitas fisik
    Aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah. Pada orang yang tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi. Hal tersebut mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Makin keras usaha otot jantung dalam memompa darah, makin besar pula tekanan yang dibebankan pada dinding arteri sehingga
    meningkatkan tahanan perifer yang menyebabkan kenaikkan tekanan darah. Kurangnya aktifitas fisik juga dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan yang akan menyebabkan risiko hipertensi meningkat. Studi epidemiologi membuktikan bahwa olahraga secara teratur memiliki efek antihipertensi dengan menurunkan tekanan darah sekitar 6-15 mmHg pada penderita
    hipertensi. Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi.

    APA PENYEBAB HIPERTENSI?
    Hipertensi bisa dikategorikan menjadi dua jenis, primer dan sekunder, dengan penyebab yang berbeda:
     Hipertensi primer: sekitar 90% dari kasus hipertensi adalah hipertensi primer, tidak ada penyebab yang bisa diidentifikasi dan sebagian besar terkait dengan faktor keturunan, kepribadian, stres mental, dan obesitas.
     Hipertensi sekunder: hipertensi umumnya disebabkan oleh penyakit lain atau perubahan pada kondisi kesehatan, misalnya penyakit ginjal dan gangguan endokrin (gangguan kelenjar endokrin yang mengeluarkan hormon). Tekanan darah pasien akan kembali normal jika penyakit tersebut sudah disembuhkan.

    BAGAIMANA CARA MENDIAGNOSA HIPERTENSI?
    Cara yang paling mudah dan paling sederhana adalah dengan menggunakan pengukur tekanan darah untuk mengukur tekanan darah Anda. Bila diperlukan, dokter akan menentukan pemeriksaan kesehatan pasien lebih lanjut, seperti tes darah, elektrokardiogram (rekam listrik jantung untuk memeriksa apakah jantung berfungsi dengan baik), pemeriksaan dada dengan sinar-X, tes urine dan pemeriksaan fundus (permukaan interior mata), dll untuk mengidentifikasi penyebab hipertensi dan potensi bahayanya terhadap organ internal.

    Klasifikasi Tekanan Darah menurut WHO

        APA KOMPLIKASI DARI HIPERTENSI?
        Hipertensi yang tidak terkendali bisa menyebabkan komplikasi berikut ini:
         Arteriosklerosis (pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi lainnya ke organ tubuh mengeras dan menjadi lebih sempit): Arteriosklerosis bisa menyebabkan penyakit serius, misalnya penyakit jantung dan stroke.
         Aneurisma (pembuluh darah yang bengkak): hipertensi yang tidak terkendali bisa menyebabkan pembuluh darah menjadi tipis dan mengembang, dan mengakibatkan aneurisma. Hal ini bisa berakibat fatal jika aneurisma pecah.
         Gagal jantung: peningkatan tekanan darah akan meningkatkan resistensi pembuluh darah, memberikan beban tambahan pada jantung; dan akan menyebabkan kegagalan jantung.
         Stroke: pecahnya aneurisma di otak bisa menyebabkan stroke. Hipertensi yang tidak terkendali juga bisa menyebabkan pembekuan darah di arteri karotis (arteri di leher). Bekuan darah tersebut bisa menyebabkan stroke emboli bila memasuki otak.
         Gagal ginjal: hipertensi yang tidak terkendali akan memengaruhi arteri di ginjal, menyebabkan kerusakan pada fungsi ginjal.
         Retinopati (kerusakan pembuluh darah pada jaringan peka cahaya di bagian belakang mata): hipertensi yang tidak terkendali akan memengaruhi arteriol (cabang arteri) di mata, sehingga menyebabkan lesi.

          BAGAIMANA CARA UNTUK MENCEGAH HIPERTENSI?
          Pencegahan hipertensi dimulai dengan kebiasaan hidup yang baik:
           Garam umumnya terbuat dari bahan natrium, dan kandungan natrium yang tinggi dalam makanan bisa menyebabkan hipertensi. Waspadalah terhadap asupan garam dalam makanan Anda sehari-hari, misalnya dengan mengurangi konsumsi makanan yang diasapi atau diawetkan dengan kandungan garam yang tinggi. Tanaman herbal, rempah atau jus lemon bisa digunakan untuk menggantikan garam atau MSG (senyawa untuk meningkatkan citarasa makanan) dalam memasak.
           Konsumsi lebih banyak sayuran dan buah-buahan.
           Berhenti merokok dan kurangi konsumsi minuman beralkohol.
           Pengendalian berat badan.
           Olahraga secara teratur: kurangnya olahraga akan memengaruhi fleksibilitas pembuluh darah, yang bisa menyebabkan kekakuan pembuluh darah dan memicu hipertensi.
           Jaga agar pikiran Anda tetap rileks atau santai.

        17 Mei diperingati sebagai Hari Hipertensi Sedunia

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *